Home » » Info Fakultas Teknik Sipil Dan Lingkungan

Info Fakultas Teknik Sipil Dan Lingkungan

Written By Irfan Adriansyah on Kamis, 27 Maret 2014 | 03.51

             

Jurusan Teknik Sipil FT UGM lahir bersama-sama dengan Fakultas Teknik UGM dalam kancah revolusi perjuangan pendirian Negara Indonesia. Riwayat Jurusan Teknik Sipil dapat dirunut ke masa kolonial Hindia Belanda. Saat itu, terdapat institusi pendidikan tinggi di bidang teknik Technische Hoogeschool yang berada di Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, Technische Hoogeschool berganti nama menjadi Koo Gyoo Dai Gaku. Segera setelah Indonesia merdeka, Koo Gyoo Dai Gaku berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandoeng, yang selanjutnya dikenal sebagai STT Bandoeng.

             Dengan penyerbuan tentara Sekutu ke kota-kota besar di Indonesia, termasuk kota Bandung, Sekolah Tinggi Teknik Bandoeng berhijrah ke Yogyakarta, yang pada waktu itu berstatus sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Secara resmi, STT Bandoeng di Jogjakarta dibuka pada tanggal 17 Februari 1945. Sama dengan saat masih di Bandung, STT Bandoeng di Jogjakarta memiliki tiga jurusan, yaitu Bagian Teknik Sipil, Bagian Teknik Mesin-Listrik, dan Bagian Teknik Kimia. Pada awal kegiatannya di Yogyakarta, STT ini menempati ruang-ruang di gedung olah raga Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di kawasan Kota Baru. Kegiatan kuliah diselenggarakan pada sore hari.
             Tidak lama kemudian, masih pada 1946, STT Bandoeng di Jogjakarta berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teknik Jogjakarta atau disingkat STT Jogjakarta. Kampus pun pindah ke kawasan Jetis. Dalam perkembangannya, STT Jogjakarta memiliki laboratorium yang berlokasi terpisah dari kampus Jetis, yaitu di kawasan Jl. Krasak Kotabaru dan Pingit.
Pada masa yang hampir bersamaan, pada bulan Januari 1946 di Yogyakarta dibentuk Universitas atau Balai Perguruan Tinggi (BPT) Swasta Gadjah Mada. Namun STT Bandoeng tidak menjadi bagian dari Perguruan Tinggi Swasta tersebut, karena STT Bandoeng di Jogjakarta adalah lembaga pemerintah (negeri). Jadi merupakan perguruan tinggi negeri yang pertama di Yogyakarta.
              Selama perang kemerdekaan, Desember 1948 sampai dengan Oktober 1949, STT Jogjakarta terpaksa ditutup. Pasca pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda, pada 19 Desember 1949 STT Jogjakarta digabungkan dengan Sekolah Tinggi Kedokteran dan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (perguruan tinggi swasta) menjadi “Universiteit Negeri Gadjah Mada” atau dikenal sebagai UGM. Ex-STT Jogjakarta menjadi “Fakulteit Teknik Universiteit Gadjah Mada”, yang sering disingkat menjadi FT UGM, dan tetap memiliki tiga jurusan: Teknik Sipil, Teknik Mesin-Listrik, dan Teknik Kimia.
            Dalam perkembangan selanjutnya, kampus FT UGM pernah berpindah beberapa kali. Kampus Jurusan Teknik Sipil FT UGM berpindah dari kawasan Jetis ke kawasan Pogung (di lingkungan kampus UGM Bulaksumur) pada 1974, sedangkan Laboratorium Pengaliran tetap di Pingit sampai 1995.                                
           Perkembangan terakhir, kampus Jurusan Teknik Sipil FT UGM berpindah secara bertahap sejak 1994 sampai 1998 ke Jl. Grafika, yang merupakan kampus terpadu FT UGM saat ini. Pada tahun 2006 Jurusan Teknik Sipil FT UGM berubah nama menjadi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (JTSL FT UGM).



Visi dan Misi
1. Visi
Visi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM (JTSL FT UGM) adalah menjadi institusi pendidikan tinggi di bidang teknik sipil yang bertaraf internasional dan menghasilkan lulusan yang andal dan bermoral, profesional, berkompeten, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
2. Misi
JTSL FT UGM mengemban misi sebagai berikut ini.
  1. Menyelenggarakan pendidikan untuk menyiapkan tenaga ahli dalam bidang teknik sipil yang andal, bermoral, kompeten, dan profesional.
  2. Menyelenggarakan penelitian yang menopang pendidikan dan kemajuan ilmu, teknologi bidang infrastruktur, terutama pada tingkatan perencanaan, perancangan, pelaksanaan, pengoperasian, dan perawatan.
  3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan segenap unsur sivitas akademika dengan memberdayakan peran serta pemangku kepentingan (stakeholders).
  4. Meningkatkan manajemen program studi yang transparan, akuntabel, dan mampu mendorong kinerja sivitas akademika program studi serta menjalin kerjasama secara berkelanjutan dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menuju institusi unggul dan bertaraf internasional.
sumber
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan kata-kata yang baik dan sopan :)

Recent Post

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Breaking The Gravity - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger